WELCOME TO MY BLOG :)

Selasa, 24 Juli 2012

BAHAYA MELAMIN


BAHAYA MELAMIN



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
     Berita seputar produk makanan dan minuman yang mengandung melamin beberapa tahun terakhir diberitakan, baik oleh media cetak maupun elektronik. Produk yang berasal dari negeri tirai bambu ini telah ditarik peredaraanya dan pemerintah pun telah mengumumkan produk-produk apa saja yang mengandung bahan berbahaya ini. Banyak Daftar makanan yang ditarik karena mengandung susu melamine, begitu banyak razia-razia makananan yang dilakukan di supermarket dan toko-toko
   Beberapa tahun terakhir kita juga dikejutkan oleh berita bahwa susu di RRC mengakibatkan ribuan bayi mengalami kerusakan ginjal dan 4 diantaranya meninggal. Setelah diselidiki ternyata akar penyebab kejadian ini adalah adanya kandungan melamin di dalam produk usus di RRC. Hanya karena ingin menjadikan seolah kandungan proteinnya tinggi, produk susu di China dicampuri melamin. Tidak tanggung-tanggung, sekurangnya empat bayi meninggal dunia dan sudah lebih dari 13.000 bayi harus dirawat.
  Sebenarnya kasus yang mirip pernah terjadi secara luas tahun lalu akibat pengoplosan melamin ke dalam makanan hewan dari China. Akibatnya, ratusan anjing dan kucing mati serta ribuan lainnya menderita penyakit gagal ginjal.
   Melamin sebenarnya di manfaatkan dalam industri rumah tangga. Di banyak toko yang menjual perabot rumah tangga, peralatan makan dan minum yang disebut melamin relatif mudah ditemukan.Sekitar tahun 1970-1980an melamin masih terbatas warna maupun coraknya, maka kini desain melamin bisa bersaing dengan barang pecah belah lainnya. Produk pecah belah melamin begitu banyaknya sehingga barang ini tak hanya bisa dibeli di toko tetentu, tetapi juga di pasar tradisional sampai di pedagang kaki lima.
   Masyarakat dalam hal ini konsumen, selayaknya mengetahui apa dan bagaimana suatu produk yang mengandung melamin. Karena dengan demikian masyarakat akan lebih selektif untuk mengkonsumsi jenis produk makanan.



1.2 PERMASALAHAN
Permasalahan yang sebenarnya adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bahaya melamin. Karena masih banyak yang menggunakan perkakas yang mengandung melamin dan masih banyak pula yang mengkonsumsi susu yang mengandung melamin.Dalam makalah ini,akan dijabarkan tentang bahaya melamin.
1.3 TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalh ini adalah mengetahui tentang melamin dan bahaya yang ditimbulkan dari melamin. Dan tujuan lain dari penulisan makalah ini adalah agar terpenuhi tugas yang telah diberikan kepada penulis. Dan supaya tulisan ini bias bermanfaat bagi pembaca.














BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN MELAMIN
Melamin adalah suatu zat organik dengan struktur kimia C3H6N6 atau dengan nama IUPAC 1,3,5-triazine-2,4,6-triamine. Berat molekulnya adalah 126, bentuk kristal putih dan agak sulit terlarut dalam air. Sebelumnya kita tahu bahwa melamin banyak digunakan pada produksi plastik seperti untuk pembuatan alat makan, biasanya untuk ini digunakan melamin resin,yaitu kombinasi melamin dan formaldehid.
Melamina adalah trimer dari sianamida, dan seperti sianamida, ia mengandung 66% nitrogen (berdasarkan massa). Ia merupakan metabolit dari siromazina, sejenis pestisida. Melamina terbentuk dalam tubuh mamalia yang mengkonsumsi siromazina.Dilaporkan juga siromazina diubah menjadi melamina pada tanaman.
Melamin biasa didapat sebagai kristal putih. Melamin biasanya digunakan untuk membuat plastik, lem, dan pupuk.

Sintesis & Reaksinya
Melamin pertama kali disintesis oleh Liebig pada tahun 1834. Pada produksi awal, kalsium sianamida diubah menjadi disiandiamida, kemudian dipanaskan di atas titik leburnya untuk menghasilkan melamin. Namun, pada zaman sekarang, kebanyakan pabrik industri menggunakan urea untuk menghasilkan melamin melalui reaksi berikut
6 (NH2)2CO → C3H6N6 + 6 NH3 + 3 CO2
Pertama-tama, urea terurai menjadi asam sianat pada reaksi endotermik: (NH2)2CO → HCNO + NH3. Kemudian asam sianat berpolimerisasi membentuk melamina dan karbon dioksida: 6 HCNO → C3H6N6 + 3 CO2. Reaksi kedua adalah eksotermik, namun keseluruhan proses reaksi bersifat endotermik.

2.2 SEJARAH MELAMIN
        Cikal bakal melamin dimulai tahun 1907 ketika ilmuwan kimia asal Belgia, Leo Hendrik Baekeland, berhasil menemukan plastik sintetis pertama yang disebut bakelite. Penemuan itu merupakan salah satu peristiwa bersejarah keberhasilan teknologi kimia awal abad ke-20. Pada awalnya bakelite banyak digunakan sebagai bahan dasar pembuatan telepon generasi pertama. Namun, pada perkembangannya kemudian, hasil penemuan Baekeland dikembangkan dan dimanfaatkan pula dalam industri peralatan rumah tangga. Salah satunya adalah sebagai bahan dasar peralatan makan, seperti sendok, garpu, piring, gelas, cangkir, mangkuk, sendok sup, dan tempayan, seperti yang dihasilkan dari melamin.Faktor inilah yang membuat melamin makin luas digunakan pada tahun-tahun awal pasca-Perang dunia II. Antara lain digunakan pada industry kayu lapis untuk memperkuat dan mempercantik produk-produknya.
Perlengkapan makan dari bahan melamin diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1970-an. Melamin ini segera mengikat konsumen karena mempunyai beberapa kelebihan dengan peralatan makan yang lain. Karena melamin lebih ringan, Tidak mudah pecah dan praktis di bawa kemana saja.


2.3 BAHAYA MELAMIN
Pengaruh Melamin bagi kesehatan
Melamin merupakan senyawa polimer yang merupakan gabungan monomer formaldehide (formalin) dan fenol yang apabila komponen penyusun melamin tersebut dalam komposisi yang seimbang kelihatan aman tetapi harus diwaspadai seringkali dalam pembuatan melamin proses pencampurannya sering kali tak terkontrol. Apabila komposisi antara formaldehide dengan fenol tidak seimbang maka aka terjadi residu, yaitu monomer formaldehide atau fenol yang tidak bersenyawa sempurna. Sisa monomer formaldehide inilah yang berbahaya bagi kesehatan tubuh. Selain itu senyawa melamin rentan terhadap panas dan sinar ultravilet yang dapat mendepolimerisasi melamin menjadi monomer formaldehide dan fenol. Meski tahan di rentang suhu 120 derajat celcius sampai 30 derajat C di bawah nol, tapi karena menyerap panas, melamin tak tahan dipapar panas terlalu tinggi. Apalagi terpapar dalam jangka waktu lama. Oleh sebab itu melamin tak bisa digunakan dalam microwave. Gesekan terhadap peralatan melamin juga berpotensi melepaskan residu formaldehide yang terperangkap sebelumnya. Sehingga meskipun kontrol pembuatan peralatan melamin sudah baik masih menyimpan bahaya bagi kesehatan. Formaldehide atau yang kita kenal sebagai formalin merupakan desinfektan yang sering pula digunakan sebagai bahan pengawet mayat yang sangat mudah masuk ke dalam tubuh lewat jalur oral/mulut, saluran pernafasan dan pembuluh darah. Formaldehid yang masuk ke dalam tubuh dapat mengganggu fungsi sel, bahkan dapat pula mengakibatkan kematian sel. Berdasarkan acuan kesehatan di Inggris, paparan maksimumnya 2 ppm atau 2 mg/l. Sedangkan Amerika Serikat (AS) menetapkan paparan maksimum untuk jangka panjang 1 ppm dan jangka pendek 2 ppm.
Bahayanya melamin bagi kesehatan tubuh
1.  Mengakibatkan gangguan metabolisme, terutama terhadap bayi dan anak-anak.
Organ tubuh yang paling cepat terganggu adalah fungsi ginjal yang bekerja untuk
membuang racun-racun dalam tubuh.
2.  Serangan akut pada saluran pencernaan, di antaranya muntah dan mencret
3.  Kerusakan berbagai organ tubuh, antara lain kerusakan, mulai dari fungsi otak,
hati, ginjal, mata dan telinga, dan bisa menyebabkan kematian.
4.  Melamin juga merusak sistem kekebalan tubuh bayi dan anak-anak yang
mengonsumsi.
5.  Melamin dapat menyebabkan masalah pernapasan pada hewan percobaan.
6.  Konsumsi melamin juga memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Siapa pun yang
terpapar zat kimia itu akan mudah terserang flu dan infeksi karena virus dan bakteri.

Penggunaan melamin dengan tingkat konsentrasi tinggi pada susu
Melamin memiliki kandungan nitrogen yang tinggi (66%) sehingga melamin ini jika dianalisa memiliki karakteristik seperti layaknya molekul protein. Melamin berbahaya jika tertelan, terhirup atau terserap kulit, paparan secara kronik dikatakan dapat mencetuskan terjadinya kanker dan kerusakan sistem reproduksi. Meskipun demikian, dosis toksik dari melamin ini cukup tinggi setara dengan dosis toksik suatu garam dapur dengan LD50 (Letal Dose50) lebih dari 3 gram/kg berat badan. Jadi kalau melamin memiliki nilai toksisitas yang rendah, mengapa dapat mengakibatkan ribuan bayi bermasalah karena zat ini? Jenis melamin yang digunakan dalam produk susu adalah melamin sianurat (kombinasi melamin dan asam sianurat) yang bersifat tidak larut dalam air, paparan kronik (setidaknya 3 bulan) dari melamin ini dapat mengakibatkan pembentukan batu pada kandung kemih dan ginjal (karena sulit larut air sehingga tidak dapat dikeluarkan via urin, selanjutnya tertumpuk dan mengkristal), bahkan kanker yang dapat menjadi penyebab kerusakan dari fungsi saluran kemih, hingga gagal ginjal.
Melamin mengandung kandungan nitrogen yang tinggi dan memiliki karakteristik protein. Penambahan melamin ditujukan untuk meningkatkan kadar protein susu sehingga seolah-olah pada saat diperiksa kadar proteinnya menjadi tinggi (untuk memeriksa kandungan protein dari suatu zat yang diukur adalah kandungan nitrogennya). Regulasi pemeriksaan formula susu sebelumnya tidak menduga bahwa akan adanya penambahan melamin ini, sehingga kandungan melamin tidak diperiksa. Meningkatkan kandungan protein tanpa perlu memperbesar kandungan protein
  • Gangguan metabolisme tubuh.
  • Serangan akut pada saluran pencernaan
  • Gangguan fungsi ginjal berupa batu ginjal dan komplikasi dengan kristalisasi yang menghalangi pembuluh kecil di ginjal.
  • Merusak sistem kekebalan tubuh.
  • Menimbulkan masalah pernafasan.
  • Jika terpapar dalam jangka panjang bisa menyebabkan gangguan fungsi organ-organ lain dalam tubuh.

2.4 POTENSI MELAMIN
   Dengan segala kelebihan melamin, tak heran kalau sebagian orang tidak menyadari bahwa melamin mempunyai potensi membahayakan bagi kesehatan manusia. Menurut pengajar pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung, Bambang Ariwahioedi PhD, MSc, melamin berpotensi menghasilkan monomer beracun yang disebut formaldehid (formalin). Selain berfungsi sebagai bahan pengawet, formaldehid juga digunakan untuk bahan baku melamin. Menurut Ariwahioedi, melamin merupakan suatu polimer, yaitu hasil persenyawaan kimia (polimerisasi) antara monomer formaldehid dan fenol. Apabila kedua monomer itu bergabung, maka sifat toxic dari formaldehid akan hilang karena terlebur menjadi satu senyawa, yakni melamin.

  Berdasarkan kerja sama penelitian antara Universitas Indonesia dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), diketahui kandungan formaldehid dalam perkakas melamin mencapai 4,76–9,22 miligram per liter. ”Permasalahannya, dalam polimerisasi yang kurang sempurna dapat terjadi residu, yaitu sisa monomer formaldehid atau fenol yang tidak bersenyawa sehingga terjebak di dalam materi melamin. Sisa monomer formaldehid inilah yang berbahaya bagi kesehatan apabila masuk dalam tubuh manusia,”ujarAriwahjoedi.

   Dalam sistem produksi melamin yang tidak terkontrol, bahan formaldehid yang digunakan cenderung tidak sebanding dengan jumlah fenol. Maka, kerap terjadi residu. Ini bukan berarti proses produksi yang sudah menerapkan well controlled dan tidak menghasilkan residu terbebas dari potensi mengeluarkan racun. Menurut Ariwahjoedi, formaldehid di dalam senyawa melamin dapat muncul kembali karena adanya peristiwa yang dinamakan depolimerisasi (degradasi). Dalam peristiwa itu, partikel-partikel formaldehid kembali muncul sebagai monomer, dan otomatis menghasilkan racun.

   Ariwahjoedi menjelaskan, senyawa melamin sangat rentan terhadap panas dan sinar ultraviolet. Keduanya sangat berpotensi memicu terjadinya depolimerisasi. Selain itu, gesekan-gesekan dan abrasi terhadap permukaan melamin juga berpotensi mengakibatkan lepasnya partikel formaldehid. Ariwahjoedi menambahkan, formaldehid sangat mudah masuk ke tubuh manusia, terutama secara oral (mulut). Formaldehid juga dapat masuk melalui saluran pernapasan dan cairantubuh.

   Monomer formaldehid yang masuk ke tubuh manusia berpotensi membahayakan kesehatan. ”Formalin kan berfungsi untuk membunuh bakteri. Kalau bakteri saja tidak bisa hidup, berarti tinggal selangkah lagi meracuni makhluk yang lain,” ungkapnya berilustrasi. Formaldehid yang masuk ke dalam tubuh dapat mengganggu fungsi sel, bahkan dapat pula mengakibatkan kematian sel. Dalam jangka pendek, hal ini bisa mengakibatkan gejala berupa muntah, diare, dan kencing bercampur darah. Sementara untuk jangka panjang, akumulasi formaldehid yang berlebih dapat mengakibatkan iritasi lambung, gangguan fungsi otak dan sumsum tulang belakang. Bahkan, fatalnya dapat mengakibatkan kanker (karsinogenik).

2.5 DATA KEAMANAN MELAMIN
      Penambahan melamin ke makanan tidak diperbolehkan oleh otoritas pengawas makanan negara mana pun. Walaupun seperti diberitakan Kompas, studi tentang efek konsumsi melamin pada manusia belum ada, hasil ekstrapolasi dari studi pada hewan dapat digunakan untuk memperkirakan efek pada manusia.
Hal itu telah tampak, bila melamin bergabung dengan asam sianurat (yang biasa juga terdapat sebagai pengotor melamin) akan terbentuk kristal yang dapat menjadi batu ginjal. Batu ginjal ini telah tampak pada hewan-hewan korban kasus pengoplosan melamin tahun lalu. Batu ginjal inilah yang dapat menyumbat saluran kecil di ginjal yang kemudian dapat menghentikan produksi urine, gagal ginjal, bahkan kematian.
Telah diketahui juga bahwa melamin bersifat karsinogen pada hewan. Gejala yang diamati akibat kontaminasi melamin terdapat pada darah di urine, produksi urine yang sedikit, atau sama sekali tidak dihasilkan, tanda-tanda infeksi ginjal, dan tekanan darah tinggi.
Melamin memang tidak dapat dimetabolisme oleh tubuh. Data keselamatan menyatakan, senyawa ini memiliki toksisitas akut rendah LD50 di tikus, yaitu 3.161 mg per kg berat badan. Pada studi dengan menggunakan hewan memang dikonfirmasi, asupan melamin murni yang tinggi mengakibatkan inflamasi kandung kemih dan pembentukan batu kandung kemih.
Food and Drugs Administration (Badan Makanan dan Obat) Amerika Serikat menyatakan, asupan harian yang dapat ditoleransi (tolerable daily intake/TDI) melamin adalah 0,63 mg per kg berat badan. Pada masyarakat Eropa, otoritas pengawas makanannya mengeset standar yang lebih rendah, yaitu 0,5 mg per kg berat badan.
Seberapa parah kontaminasi yang terjadi? Dari inspeksi yang dilakukan di China, dari 491 batch (kelompok) yang dites, 69 di antaranya positif mengandung melamin, berkisar dari 0,09 mg per kg susu sampai 619 mg per kg susu. Bahkan ada yang mencapai 2.563 mg per kg.
Dengan konsumsi susu formula per kg berat badan bayi sekitar 140 g sehari, kalau bayi mengonsumsi susu yang terkontaminasi akan menerima asupan melamin 0,013-86,7 mg per kg berat badannya.Bahkan, kalau mengonsumsi susu yang terkontaminasi 2.563 mg melamin per kg susu, dapat mencapai asupan 358,8 mg per kg berat badannya. Jauh melampaui batas toleransinya.

2.6 Standard batas kandungan Melamin
  • European Food Safety Agency (EFSA) dan U.S. Food and Drug Administration (FDA) untuk batas kandungan melamin dalam produk makanan , selain makanan bayi , adalah kurang dari 2.5 ppm
  • Hong Kong untuk batasan maksimum konsentrasi melamin pada makanan bayi adalah 1 ppm dan makanan lain 2.5 ppm
  • FDA menetapkan batasan konsentrasi melamine yang terkonsumsi per hari yang dapat ditoleransi adalah 0.63 mg / kg berat badan.














BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 KESIMPULAN
Melamin adalah bahan kimia berbasis organik dengan rumus kimia C3H6N6. Melamin merupakan trimer dari sianida. Melamin ini mengandung 66% nitrogen, dan sering digunakan untuk bahan campuran plastik dan pupuk. Karena mengandung banyak nitrogen, maka susu yang dicampur dengan Melamin akan menyebabkan seolah-olah kadar protein susu lebih banyak dari kandungan protein aslinya.

Melamin sama sekali tidak berguna untuk kesehatan dan tidak ada kandungan nutrisinya. Produk plastik yang menggunakan melamin sebagai bahan dasarnya memang murah sekali, tetapi ada bahaya kanker yang akan menyerang jika menggunakan produk plastik dari melamin. Bayangkan apabila melamin ini langsung di konsumsi dari produk makanan yang di campur dengan melamin.

Bahaya yang dapat ditimbulkan dari Melamin antara lain Iritasi untuk kulit yang terkena melamin,Kerusakan alat-alat reproduksi,Gagal ginjal dan Kanker.

3.2 SARAN
Masyarakat sebaiknya lebih berhati-hati dalam memilih bahan-bahan perkakas dan rumah tangga, agar terhindar dari bahaya melamin. Dan supaya para orang tua lebih berhati-hati dalam membeli susu untuk anaknya, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti terjangkit penyakit yang berbahaya.






DAFTAR PUSTAKA

Dewan Redaksi Hamparan Dunia Ilmu. 2008. Bahaya Melamin Pada Anak-anak. Jakarta : Tiara Pustaka.
Prawirahartono, Slamet. 2008. Cara Mengidentifikasi Makanan Mengandung Melamin. Jakarta : Bumi Aksara.
radmarssy.wordpress.com/2008/08/01/bahaya-kanker-di-balik-melamin-murah/(Diakses tanggal 1 April 2011)
Widyastuti,Palupi,2005. Bahaya Bahan Kimia Pada Kesehatan Manusia Dan Lingkungan, Jakarta :EGC




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar